Profesor geosains dari Brigham Young University, Amerika Serikat, Ronald Albert Harris mengkritisi pembangunan coastal protection dan elevated road di Teluk Palu. Menurutnya, pendidikan mitigasi bencana jauh lebih penting dan murah, daripada membangun tanggul yang sangat mahal biayanya.

“Tanggul bukanlah solusi menghadapi tsunami sedangkan edukasi adalah hal utama dalam identifikasi resiko bencana,” ujar Prof Ron A. Harris, saat menjadi narasumber pada Seminar Internasional Geologi dengan tema Disasters Adaptation Readiness In The 20-10-20 Scheme, Rabu (27/11/2019), di Aula FUAD IAIN Palu. Seminar internasional ini diinisiasi oleh Dekan FUAD IAIN Palu, Dr. Lukman S. Thahir, M.Ag.


Menurut Prof Harris, Palu harus belajar dari tsunami yang melanda Jepang di tahun 2011, di mana tanggul tsunami yang dibangun pun, ternyata tidak mampu menahan tsunami dan justru menimbulkan banyak korban. Kata dia, pendidikan mitigasi kepada warga, jauh lebih penting ketimbang membangun konstruksi menghadapi bencana.

Dirinya menyebutkan, edukasi sebagai hal utama dalam identifikasi resiko bencana, dapat dilakukan melalui empat hal, yakni mempelajari sejarah kebencanaan, geologi, juga membaca seismograf dan sesar aktif. Kemudian ada tiga hal yang dilakukan dalam resiliensi bencana atau kemampuan/ketangguhan menghadapi bencana, yakni mempelajari sejarah kebencananaan di tempat tinggal kita, memperbaiki kesalahan yang terjadi, serta jangan mengulang kesalahan yang sama.

Misalnya untuk upaya mitigasi tsunami Palu kata dia, banyak papan penanda jalur evakuasi yang tidak sesuai, karena menurutnya, titik kumpul harusnya lebih jauh ke daratan. Rambu evakuasi tersebut kata dia, juga harus dibuat lebih sederhana penyampaiannya, agar warga dapat lebih memahami.

“Misalnya untuk tsunami Palu dengan skema 10-10-20, yakni saat gempa terjadi lebih dari 10 detik, segera mengevakuasi diri dengan estimasi 10 menit antara waktu gempa dan tsunami, dengan mencari tempat yang tinggi, minimal 20 meter dari permukaan pantai,” ujarnya.

Prof. Harris juga tercengang, saat mengetahui bahwa IAIN Palu, sebagai kampus yang terletak di bibir Teluk Palu, belum pernah melaksanakan simulasi bencana bagi sivitas akademikanya, pascabencana 28 September 2018. Hal ini membuat dirinya usai seminar, mengajak sivitas akademika IAIN Palu untuk mempraktekkan skema 10-10-20 tersebut di area kampus.   

“Hal yang penting dalam edukasi kebencanaan adalah mendengarkan suara alam, suara orang-orang, serta membantu orang-orang mendengarkan suara alam. Kota cerdas bukanlah kota melek teknologi, melainkan kota tangguh bencana,” ujarnya.

Edukasi kebencanaan kata dia, merupakan bagian dari strategi menyelamatkan nyawa manusia saat bencana, dengan menentukan siapa yang paling beresiko, komunikasi resiko, juga implementasi strategi pengurangan resiko. Dengan adanya gap antara peneliti dan masyarakat bisa, dirinya meminta bantuan kalangan masyarakat yang telah mengetahui upaya mitigasi, untuk mengkomunikasikan resiko tersebut kepada masyarakat, sebagaimana dirinya membantu mentransfer pengetahuan dan hasil penelitiannya tentang hal tersebut. JEF